Rabu, 30 April 2014

Sabar dalam menghadapi masalah

Tips menghadapi masalah

Masalah pasti tidak akan pernah bosan menghampiri  kita. Terkadang dalam menghadapinya kita bisa tegar, namun lebih sering kita menjadi tidak sabar dan tidak ikhlas dalam menghadapi cobaan yang datang. Hasilnya, kita merasa menjadi orang yang paling nespata di seluruh dunia. Padahal, yang menjadi permasalahan sebenarnya ialah bagaimana sikap kita ketika menhadapi masalah-masalah hidup tersebut.  Mutlak sudah, bahwa memahami rahasia di setiap masalah adalah kunci emasnya! Saya sebenarnya belum pantas memberikan tips-tips bagaimana caranya supaya bisa sabar (karena diri saya juga nggak sabaran.. :D ). Tapi, insya Allahuraian berikut tidak ada salahnya untuk dijadikan bahan renungan. ***Pertama, penyebab kita gak bisa sabar dalam menghadapi musibah atau misalnya kehilangan, KARENA, kita selalu merasa semua yang kita miliki adalah bener-bener milik kita. Tapi kalo kita sedikit MAU merenung, ternyata semuanya adalah milik Allah. Kita bisa segede ini sekarang juga karena pemeliharaan Allah. Jadi, suka-suka Allah mau ngelakuin apa aja ke diri kita. Namanya manusia hidup, PASTI diuji. Allah berfirman dalam Al Quran:“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta..” (Al Ankabut 29:2-3)Semua ujian itu datang dari Allah, bisa berupa kesenangan atau kesulitan. Tapi, yakinlah apa pun yang Allah takdirkan buat kita adalah yang terbaik buat kita juga. Menurut pakar psikologi anak, M. Faudhil Adzim, disebuntukan bahwa: Cukuplah dikatakan kejam bagi orang tua yang selalu memanjakan anaknya. Semua keperluan anaknya disediakan dan diberi segala yang mewah-mewah. Anak itu tidak dibiarkan sedikit pun diberi kesempatan untuk mengusahakan apa yang ia inginkan.Lalu apa yang terjadi kemudian pada anak itu? Ketika anak itu menjadi besar, di kehidupannya ia menjadi seorang yang egois, tidak kreatif, dan tidak berkompeten dalam bidang apapun kecuali kemalasan. Apakah ini yang dihendaki oleh orang tuanya dulu? Tentu bukan! Orang tua yang baik bukan orang tua yang menfasilitasi anaknya dengan kemewahan, tetapi orang tua yang baik itu adalah orang tua yang memberikan kesempatan anaknya untuk berusaha, serta membimbing setiap langkahnya. Menyemangati dan mendukung penuh hal-hal baik yang dilakukan anaknya.Begitu pula Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Cobaan yang diberikan kepada hambanya jangan sampai kita pandang sebagai siksaan, tapi pandanglah sebagai sarana untuk memperkuat diri. Dan di dalam 2:286 Allah berfirman artinya :”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. Allah berjanji tidak akan memberikan ujian melebihi kemampuan kita. Janji Allah jauh lebih pasti daripada terbitnya matahari esok pagi.Kedua, setiap ujian dari Allah adalah kebaikan dan hikmah besar buat diri kita. Tidak semua yang menurut kita baik adalah benar-benar baik diri buat kita. Kenapa? karena Allah-lah yang paling mengerti diri kita, Dia-lah yang menciptakan dan memelihara kita sehingga Allah-lah yang paling paham apa-apa yang kita butuhkan. Sedangkan kita,mungkin hanya sedikit yang kita ketahui dari diri kita.Misalnya, ada seorang anak usia TK minta dibelikan motor  kepada ayahnya. Tentu sang ayah tidak akan mengabulkan permintaan si anak, walau anak itu nya menangis seharian tetap si ayah gak akan menuruti permintaan anaknya yang masih kecil itu. Bukannya ayahnya ini pelit, tapi ayahnya yakin bahwa anaknya belum bisa untuk mengendarai motor berat. Ayah nya khawatir kalau-kalau anaknya nanti malah kecelakaan. Tapi, dalam hati sang ayah pasti berjanji akan membelikan anaknya itu motor yang lebih bagus dari yang diminta anaknya di saat anaknya telah masuk kuliah.Begitu pula, Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, tidak mungkin mengorbankan hambanya, untuk hal-hal yang dipandang baik dalam kacamata sang hamba. Allah berfirman artinya:“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui..” (Al Baqarah 2:216)Penutup“Carilah pertolongan (Allah) dengan sabar dan shalat, sesungguhnya yang demikian itu berat kecuali bagi mereka yang khusyu’”… Wahai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya orang bersama orang-orang yang sabar..” (Al Baqarah:45)

pentingnya menjaga lisan

Pentingnya Menjaga Lisan Ketika MarahSuatu, ketika ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan kepada sang anak untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang setiap kali dia marah...Hari pertama anak itu telah memakukan begitu banyak paku ke pagar setiap kali dia marah... lalu secara bertahap jumlahnya berkurang. Dia mendapati ternyata lebih mudah menahan amarahnya ketimbang memaku pagar.Akhirnya tibalah waktu dimana si anak merasa benar-benar bisa mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya. Dia memberitahukan hal tersebut kepada sang ayah, yang kemudian mengusulkan untuk mencabut satu paku satu hari setiap dia berhasil menahan marah.Hari-hari berlalu dan si anak akhirnya memberitahu kepada sang ayah bahwa ia telah berhasil mencabut paku-paku tersebut, lalu sang ayah menuntun si anak menuju pagar belakang rumah."Hmmz.., kamu telah berhasil dengan baik anakku, tetapi lihatlah lubang-lubang di pagar ini. pagar ini tidak akan sama seperti sebelumnya. Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan kata-katamu meninggalkan bekas seperti lubang ini di hati orang lain...Kamu bisa menusukkan pisau kepada seseorang, lalu mencabut pisau itu tetapi tidak perduli kamu meminta maaf luka tersebut tetap ada dan luka karena kata-kata lebih buruk dari luka fisik..."Oleh karena itu sebaik-baik manusia adalah yang bisa menahan lisannya, karena banyak musibah yang diawali dari lisan.Alloh SWT berfirman :"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang"[Al-Hujurat : 12]Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya no. 6477 dan Muslim dalam kitab Shahihnya no. 2988 [3] dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda :"Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa dampak-dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat"Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya no. 6475 dan Muslim dalam kitab Shahihnya no. 74 meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda :"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam"Semoga Alloh SWT memberi kekuatan pada kita untuk senatiasa menjaga lisan dari perkataan-perkataan yang buruk....aamiin